Rabu, 01 Desember 2010

Tradisi Nyadar

Posted by Ainur Zone On 04.52 0 komentar



Sebagai tradisi menghormati leluhur yang telah memberi jalan hidup. Sekaligus syukur pada ilahi yang telah menebar anugerah kehidupan.
Matahari terik mengiring mobil Mossaik menggelinding menyusur jalan di jalur selatan Pulau Madura. Setelah diawal pagi kami memulai perjalanan kali ini, sekitar empat jam kemudian akhirnya kami kembali sampai ke Sumenep untuk yang kesekian kalinya.
Upacara adat Nyadar, yang
sekarang menjadi target liputan kami. Adalah kekayaan tradisi masyarakat petani garam Desa Pinggir Papas. Walau orang Pinggir Papas yang begitu terikat melakoni tradisi ini setiap tahun, namun kenyataannya tradisi Nyadar sudah menjadi milik semua orang.
Tak heran bila setiap kali pelaksanaannya, orang-orang dari seluruh penjuru datang dengan motivasinya masing-masing. Maka jadilah upacara tradisi ini tumpah-ruah dengan orang-orang, baik ketika acara ziarah di hari pertama. Maupun di acara haul, atau yang mereka sebut dengan Kaoman, pada hari berikutnya.
Nyadar dilakukan di sekitar komplek makam leluhur, disebut juga asta, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Bujuk Gubang. Dalam setahun dilakukan tiga kali berturut-turut dengan rentang waktu satu bulan berselang. Pada Nyadar ketiga biasa mereka sebut dengan Nyadar Bengko.
Lokasi tersebut berada di Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi yang masih masuk Kabupaten Sumenep. Dari kota Sumenep sendiri untuk menuju lokasi masih harus menempuh jarak sekitar 13 kilometer lagi ke arah Selatan. Bila membawa kendaraan pribadi akan lebih baik, namun kalau terpaksa harus menggunakan kendaraan umum, di sana pun tersedia. Tidak perlu kawatir kesasar, karena lokasinya sangat terkenal, bertanya kepada penduduk setempat pasti tahu tempatnya.
Mossaik kali ini datang pada pelaksanaan upacara Nyadar yang pertama. Yang jatuh pada tanggal 23 dan 24 Juli 2005 H. Bila menurut perhitungan bulan, jatuh pada tanggal 17. Konon penentuan waktu pelaksanaan Nyadar berdasar musyawarah para pemuka adat, yang masih merupakan keturunan dari leluhur yang dimakamkan di asta itu.
Salah satu referensi Mossaik menyebutkan beberapa syarat sehubungan dengan pelaksanaan Nyadar. Syarat tersebut terdapat kaitan dengan peringatan Maulid Nabi. Yang pertama, pelaksanaan upacara tidak diperkenankan diadakan sebelum tanggal 12 Maulid.
Kedua, selamatan yang tidak boleh melebihi besarnya selamatan yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan syarat yang lain adalah para peserta upacara Nyadar terlebih dahulu diwajibkan untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dari syarat tersebut selain mengindikasikan bahwa Nyadar tumbuh dan berkembang setelah Islam masuk. Selain itu juga mengimplikasikan bahwa penghormatan terhadap leluhur mereka tidak boleh melebihi penghormatan terhadap Rasulullah.
Dari Leluhur
Bila pada Nyadar pertama dan kedua dilakukan di sekitar asta Syeh Anggasuto, Syeh Kabasa, Syeh Dukun, dan Syeh Bangsa yang ada di Desa Kebundadap Barat, pada Nyadar ketiga dilakukan di desa Pinggir Papas.
Konon hal ini juga berangkat dari nadar Syeh Dukun, yang juga ingin melakukan syukur tetapi hanya di lingkungan rumahnya (dalam Bahasa Madura disebut bengko) atau diantara keluarganya sendiri. Namun demikian ada yang khas dari pelekasanaan Nyadar ketiga ini.
Di Nyadar ketiga ini, pada malam harinya biasanya diikuti dengan kesenian mocopat atau membaca layang. Dimana tulisannya masih menggunakan tulisan Jawa kuno dengan media daun lontar. Jalannya cerita dalam mocopat tersebut, yang pertama adalah Jati Suara. Cerita Jatiswara ini mengisahkan jalannya nyawa dan raga dari perjalanan hidup manusia. Kemudian yang kedua ceritanya Sampurnaning Sembah. Yang kedua ini lebih mengisahkan jalannya bakti manusia kepada sang Pencipta, atau hal Syari’at.
Mungkin ada yang penasaran bagaimana asal mula Nyadar. Untuk menjawab hal itu, Mossaik sempat menemui Satija, salah satu sesepuh adat. Sebelum menuturkan kisah sepanjang yang diketahuinya, pria 64 tahun ini berulang-ulang menegaskan bahwa yang akan diceritakannya itu adalah juga berdasar dari cerita ke cerita dari pendahulunya.
Karena memang tidak ada goresan catatan yang secara lengkap merekam asal mula Nyadar. ”Ini katanya, saya sendiri tidak tahu, karena itu sudah terjadi sejak ratusan tahun silam,” tegasnya. Asal mula Nyadar menurut Satija, karena seorang, yang kemudian dia sebut dengan ahli cipta, di Pinggirpapas.
Dia adalah Anggasuto, pada suatu malam melakukan Istigharah. Memohon kepada Tuhan yang maha Esa, jika dia memang ditakdirkan hidup di daerah tersebut. Apa yang bisa dijadikannya sebagai sumber hidup atau mata pencaharian baginya. Sebab di daerah tersebut adalah daerah pesisir pantai. Yang bisa dibayangkan bagaimana kondisinya.
Konon, Tuhan mengabulkan dan memberinya petunjuk. Anggasuto semacam diminta untuk berjalan menuju pesisir pantai. Pada suatu waktu, Anggasuto berjalan ke arah pantai. Karena tanah di pantai itu begitu lembek, hingga membentuk tapak kakinya. Selang waktu berjalan, bekas tapak kaki tersebut terisi oleh air laut.
Beberapa hari kemudian, Anggasuto kembali berjalan ke arah pantai. Dia memperhatikan sesuatu di bekas tapak kakinya itu. Dijumpainya bekas tapak kaki itu dipenuhi oleh benda yang berwarna putih. Anggasuto sempat bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan benda putih tersebut? Adakah benda putih itu adalah madduna sagara (Madunya Samudra, red)?
Akhir kata, benda itu kemudian oleh Anggasuto disebut dengan Buja, yang merupakan istilah bahasa Madura untuk garam. Maka, hingga sekarang benda itu dikenal dengan nama buja atau garam. Kabarnya kisah itu sudah tersiar ke segala penjuru daerah. ”Ini berarti garam merupakan temuan Anggasuto,” tegas Satija lagi.
Seiring perputaran jaman, temuannya itu ternyata memberi manfaat bagi seluruh manusia di penjuru Nusantara. Dimana pola mata pencaharian sebagai petani garam kemudian juga dilakukan oleh beberapa masyarakat di daerah lain seperti di Bali dan Sumatera.
Dan waktu terus berjalan, orang-orang di daerah Pinggirpapas masa itu, dengan bimbingan Anggasuto terus mempelajari bagaimana memetak tanah untuk ladang garam. Selain itu juga cara memindah-mindah air laut.
Dari air kesatu hingga air kedua puluh lima yang baru menjadi garam. Yang dimaksud disini adalah kadar air. Kemudian daerah tersebut disebut dengan padaran atau sekarang dikenal dengan talangan. Maka jadilah daerah tersebut dengan hamparan ladang garam, dan mayoritas masyarakatnya mempunyai mata pencaharian sebagai petani garam.
Konon setelah garam-garam itu menunjukkan hasil, Anggasuto sebagai manusia yang senantiasa tidak lupa pada sang pemberi rejeki. Suatu ketika dia pun bernadar, setiap jatuh pada bulan dan tanggal panas matahari (masuk musim kemarau) akan melakukan Nyadar, semacam bakti syukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. Maka jadilah dilakukan upacara Nyadar pertama.
Dalam perjalanan waktu adik dari Anggasuto, Kabasa, juga melakukan nadar yang sama. Maka jadilah upacara Nyadar yang kedua. Yang waktunya satu bulan berselang setelah Nyadar pertama dilakukan. Demikian halnya pada pelaksanaan Nyadar ketiga, yang merupakan nadar dari Dukun. Berdasar referensi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep menyebutkan Syeh Dukun ini adalah pembantu Anggasuto yang berasal dari Banten.
Demikian menurut Satija asal mulanya Nyadar yang sangat terkait dengan asal mula ditemukanya garam. Secara umum, Nyadar sendiri adalah semacam Syukuran/Haul atau mensyukuri anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan.
Sehubungan dengan keramaian yang mengiringi upacara adat ini awalnya adalah orang Pinggirpapas sendiri yang datang ke Desa Kebundadap bahkan bermalam di sana. Sementara pada malam hari biasanya dilokasi juga akan ramai. Di areal tersebut tiba-tiba berubah bak pasar malam. Banyak orang berjualan dan juga banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru daerah.
Memang sekilas di area dekat asta itu mirip dengan pameran. Beberapa pedagang dadakan datang dan menggelar dagangannya. Ini yang kemudian menjadi hiburan alternatif bagi masyarakat sekitar. Pengunjung pun berjubel, ada yang membeli beberapa barang atau sekedar jalan-jalan biasa.

0 komentar:

Posting Komentar